Sabaoth Bicara 'The Inquisition' dan Evolving sebagai Musisi Metal

METALMARCH - Baru mengeluarkan EP 'The Inquisition' pada April 2019 menjadi wujud nyata eksistensi Sabaoth di scene IDDM. Kini, kuartet dari Manado, Sulawesi Utara, ini dalam tahap awal penulisan materi untuk album penuh kedua dan seperti yang dipastikan oleh sang gitaris Rio, album ini akan lebih bengis! Untuk itu, silakan simak wawancara singkat kami dengan Rio berikut ini.

MM: Sedang sibuk apa sekarang setelah 'The Inquisition' rilis Maret lalu?

Sabaoth: Selain sibuk dengan kesibukan masing-masing personel, materi baru sudah mulai digarap.

MM: Sebagai orang yang sama-sama main di musik, saya penasaran dengan bagaimana proses kreatif dari 'The Inquisition'? Misal, berapa lama pengerjaan, jamming di studio dahulu baru diisi lirik, atau lain-lain?

Sabaoth: Pengerjaan EP 'The Inquisition' dimulai setelah 'Unholy Divinity' rilis dan mulai direkam Agustus 2017 sampai semester pertama di 2018. Untuk jamming di studio sebenarnya tidak terlalu sering, jadi setelah materi gitar selesai dikasih ke Marcel (Drum) untuk dikerjain drum pattern-nya & di-arranged mana yang perlu ditambah atau dikurangin, kemudian bass & vocal menyusul setelah itu. Selanjutnya kami lebih sering latihan masing-masing untuk penguasaan materi sebelum jamming bareng di studio untuk pematangan materi.



MM: Usai memutar 'The Inquisition' berkali-kali, jujur saya merasa Sabaoth kian mantab. Apa ada resep khusus atau senjata yang bisa bikin album EP ini luar biasa?

Sabaoth: Wahh, terima kasih untuk apresisasinya. Resep khusus sebenarnya tidak ada, tapi memang penggarapan materi beda dengan sebelumnya dimana untuk 'The Inquisition' tidak ada pengulangan part. Jadi kami lebih bebas bereksplorasi di EP ini dan berbanding lurus dengan hasil, kami senang dengan style seperti dan lebih dapat karakternya. Untuk proses rekamannya di-upgrade sedikit seperti gitar sama bass sound-nya dari ampli dengan cara ditodong. Selanjutnya diserahkan ke Januaryo Hardy -Insidious Lab- untuk mixing & mastering.

MM: 'The Inquisition' juga masih mengusung blasphemy and all that stuff. Dari mana bisa mendapat ide menulis lirik dengan tema itu?

Sabaoth: Kami benci dengan fanatisme terhadap agama adalah awal mula kami mengkonsepkan tema-tema seperti ini dan juga segala keganjilan yang ada di lingkungan keagamaan yang bertolak belakang dengan nalar. Untuk lirik, konsep secara umum kami bahas sama-sama dan penulisan dilanjutkan oleh Boy sesuai dengan idenya sendiri dengan mengacu konsep umum yang sudah dibahas.

MM: Biasanya band-band yang sudah memiliki 2-3 album akan mengubah gaya di album-album selanjutnya. Bagaimana dengan Sabaoth?

Sabaoth: Kalau kita bicara soal 'The Inquisition' perbedaan pasti terasa jika dibandingkan dengan 'Unholy Divinity', tapi sedrastis apapun ritme kebrutalan kami di EP ini, kami tak bisa lepas dengan ciri khas kami yang groovy walaupun tak sedominan di 'Unholy Divinity'. Jadi sepertinya akan ada perbedaan untuk rilisan kami berikutnya tapi tidak menghilangkan benang merahnya.

MM: Evolve adalah hal bagus karena musisi tersebut berarti terus belajar. Namun di sisi lain, evolve terkadang mengubah drastis gaya bermusik yang bahkan dipandang negatif oleh pasar, contohnya Metallica dan lain sebagainya. Bagaimana pendapat Anda soal ini?

Sabaoth: Ya, musisi cenderung  terus bereksplorasi mencoba atau menambahkan style baru dalam komposisi musik mereka, ini hal yang wajar saja selama musisi tersebut nyaman dengan hasil karyanya; “kayak gini lho musik kami yang sekarang, mungkin kalian tidak suka tapi kami senang dengan style yang sekarang”. Jadi walaupun orang-orang tidak suka, musisi tersebut mungkin tidak akan terlalu memikirkannya, so it’s a fine thing. Tapi kalau kita berbicara soal pasar beda lagi pandangannya, penikmat akan selalu mengkritisi output yang dihasilkan lepas dari seberapa puasnya musisi tersebut mengenai karya baru mereka. Intinya, evolve akan beresiko dan hal ini disadari musisi, ada yang akan dan ada yang enggan, mungkin karena sudah nyaman dengan gaya mereka atau takut kehilangan fans dan lain sebagainya.


MM: Apa yang bisa Sabaoth janjikan di album penuh kedua? Apakah akan tetap menjadi Sabaoth?

Sabaoth: Tetap akan menjadi Sabaoth yang blasphemy tapi pasti akan berbeda, sedikit atau banyak nantilah kita simak setelah semuanya selesai, karena untuk sekarang masih tahap awal penggarapan materi baru jadi seberapa besar perbedaan dengan 'The Inquisition' masih misteri.

MM: Di interview pertama empat tahun lalu, Sabaoth sempat menyinggung soal skena di Manado. Bagaimana atmosfer skena Metal di sana saat ini? Apakah ada band yang punya materi sadis tapi kurang disorot atau underrated?

Sabaoth: Skena metal Manado tidak jauh berbeda dengan empat tahun lalu. Pada umumnya semua band sudah punya lagu sendiri tinggal menunggu untuk dipatenkan dalam bentuk karya fisik (album).Untuk Death Metal yang melodic ada Dangerous of Eternity, Black Death ada Calvarium. Hal yang sering saya sampaikan ke teman-teman disini untuk mencoba berkomunikasi dengan teman-teman di luar Manado, buatlah jaringan, buatlah promo dan sebarkan ke luar pasti akan ada feedback yang berguna nantinya.

MM: Terima kasih sudah bersedia mau di-interview. Jika ada pesan terakhir untuk brutallers dan pembaca Metal March, kami persilakan.

Sabaoth: Untuk Metal March terima kasih atas interview dan promosinya, buat semua brutallers BELI REKAMAN FISIK karena itu bentuk nyata dukungan kalian terhadap band-band yang kalian sukai.

Sabaoth

Dismembered Records

Comments