Tangerang Metal Scene for Dummies: Tujuh Band Berbahaya Tangerang

Tangerang Headbang pada Februari 2012

METAL MARCH – Sebagai metalhead yang lahir, besar, dan hidup di skena Tangerang, menurut gw –boleh setuju atau tidak– Tangerang adalah daerah penyangga Ibu Kota DKI Jakarta yang perkembangan musiknya paling lambat dibandingkan dengan Bogor, Depok, apalagi Bekasi. Band-band baru yang muncul di sini memang banyak, tapi mayoritas tidak berumur panjang (lagi-lagi boleh setuju atau tidak, tapi faktanya begitu).

Pada akhir 2000-an, Tangerang juga ikut terkena demam “metal anak muda” yakni metalcore dan deathcore. Untuk  urusan ini, Sepatuara dan Maryatie berada di baris terdepan. Garagore dan Astaroth yang masing-masing mengusung brutal death metal dan symphonic black metal pun ikut digandrungi. Tapi, jangan juga lupakan band-band gaek seperti Borox, Episode 666, dan Anueta yang saat itu masih eksis dan ramai menjadi headliner gigs lokal. Saat itu, scene metal Tangerang sangat hidup dan mungkin berada di puncak karena hampir tiap hari ada saja pamflet baru yang menempel di tiang listrik, menandakan akhir pekan nanti ada “acara”.

Karena beberapa alasan yang gw juga enggak ketahui, band-band yang sudah disebutkan di atas tadi mulai redup alias mundur dari skena. Akan tetapi, melempemnya skena Tangerang bukan juga akibat dari tidak aktifnya band-band di atas itu J.

Tangerang juga sempat mengalami demam ‘Blood Splattered Satisfaction’-nya Waking the Cadaver. Lagu itu sangat nge-hits sehingga membuat banyak benih “guik-guik” baru muncul. Good old time! Failed Virgin menjadi frontliner untuk urusan genre tersebut, dan hingga kini mereka masih eksis.

Kini, skena Tangerang mulai bangkit dan muncul nama-nama baru yang menurut gw jauh lebih menarik –walaupun tak se-heterogen sebelumnya– seperti Antithesis, Omnivorous, Disgusting Castigation, Kilometer, Introvert, Torturing Quietly, Visceral Cadaverment, Failed Virgin, Germinativum, hingga Dismorality. Juga jangan lupakan wajah-wajah lama yang mulai meramaikan skena Tangerang seperti Drop dan Atrocious,

Sekadar me-refresh kacamata Anda mengenai skena Tangerang, berikut gw jabarkan band-band menarik dari Kota 1000 Industri ini:

FAILED VIRGIN (Slamming Brutal Death Metal)

Salah satu pionir slamming Tangerang. Failed Virgin kian paten menancapkan kukunya di skena setelah mengeluarkan LP ‘Beheading Reception With Vaginal Blood’ melalui Breeding Records pada 2014. Keluarnya ‘Beheading Reception With Vaginal Blood’ juga menjadi bukti keseriusan Failed Virgin, sebab waktu itu band-band bergenre serupa seperti hanya mengikuti tren alias berumur pendek akibat demam ‘Blood Splattered Satisfaction’ tadi. Sound berat, riff-riff super cerdas, lalu ditambah bass drum yang menendang bokong jadi khas album tersebut. Pada 2015, Failed Virgin mengeluarkan single yang berjudul ‘Devoured’, Meskipun menggunakan drum programming, ‘Devoured’ lebih matang secara komposisi musik, lalu riff serta sound gitarnya jauh lebih megah. And yes, riff dan sound gitar adalah dua hal yang paling harus diperhatikan di slamming.




ANTITHESIS (Technical Death Metal)

Setelah LP ‘Subjugator of Machine’ dilepas pada 2013 oleh Breeding Records (lagi-lagi Breeding Records. Ya, kata Putra si empunya label, Breeding Records hanya diperuntukkan untuk band-band death metal Tangerang), gw sama sekali tidak percaya Antithesis berasal dari Indonesia, apalagi Tangerang. Pasalnya, mereka memainkan death metal dengan teknik super tinggi yang bikin gw pastinya angkat tangan dan topi. Banyak yang bilang Antithesis adalah carbon copy dari Origin, dan gw harus mengakui itu karena memang benar! Tapi, ‘Subjugator of Machine’ tetap memiliki ke-raw-an khas Indonesia. Setelah lama tidak terdengar, pada 2015, Antithesis ujuk-ujuk mengumumkan bahwa mereka merapat ke label death metal terbesar Indonesia, Rottrevore Records. Single yang berjudul ‘Dawn of Canopus’ pun dirilis di tahun yang sama, tapi belum jelas LP kedua yakni 'Orbital Collapse' bakal dirilis kapan. Akhir 2016 mungkin?




OMNIVOROUS (Brutal Death Metal)

Band underrated di skena. Pertama kali tahu Omnivorous pada 2014 saat mengeluarkan ‘Promo 2014’ melalui Brutal Mind, lalu setahun kemudian mereka melepas EP ‘Age of Maelstorm’ melalui label yang sama. ‘Age of Maelstorm’ dikemas dengan sangat brilian, mulai dari tema lirik hingga artwork yang dipakai. Dari segi musik, banyak yang setuju Omnivorous mirip salah satu dewa brutal death metal dari Yunani, Inveracity. Mind-blowing brutal death metal. Cerdas. Ya, riff-riff yang muncul di ‘Age of Maelstorm’ memang agak out of the box untuk ukuran brutal death metal, sebab gitaris mereka juga main di band blackened death metal yakni Abhira. Sedikit-banyak tentu itu berpengaruh. Kini untuk posisi vokalis, Omnivorous diperkuat Januaryo Hardy (Perverted Dexterity/Cadavoracity/Interfectorment (live), Insidious Soundlab. Banyak yah hehe) dan pada sempat 2015 sempat mengeluarkan single ‘Liturgy of Dilapidation’ yang berbau ‘Biased Existence’ milik Disavowed. Jadi, tunggu saja gebrakan bombastis Omnivorous di masa mendatang.






KILOMETER (Hardcore)

Hardcore punya tanah sendiri di skena Tangerang. Gede. Genre ini tidak membutuhkan genre-genre lain untuk bisa eksis sendirian di Tangerang Berhias. Varian hardcore di Tangerang juga beragam, mulai dari hardcore punk, metalcore, thrashcore, hingga beatdown kece menjamur. Dan Kilometer adalah band hardcore yang paling disegani di Tangerang, massa mereka banyak banget! Fashion juga menjadi “pemanis” anak-anak muda Tangerang menyukai hardcore. Snapback, baju kebesaran/jersey, hingga sneakers adalah fashion items para hardcore kid. Akan tetapi, balik lagi karena fashion itu hanyalah bumbu penyedap. Ibarat girlband K-pop yang ceweknya kece-kece walaupun oplas, mereka itu terkenal seantero dunia bukan karena cantik, tapi skill-nya memang bagus. Itu juga berlaku untuk hardcore.






GERMINATIVUM (Slamming Brutal Death Metal)

Band slamming yang punya semangat ’45 ini berasal dari Pamulang dan awalnya bernama Exaleips. Di bawah nama Exaleips, mereka berhasil menelurkan album yang berjudul ‘The End Amenities and The Beginning of Deranged Suffering’ secara independen pada 2012. Semangat D.I.Y Exaleips pun jelas kentara ketika launching album yang dibuat sendiri di studio kecil kawasan Pamulang dekat pacuan kuda. Lama tak teredengar, Exaleips mengubah nama menjadi Germinativum pada 2014. Dua tahun kemudian, mereka mengumumkan diri masuk ke roster Extreme Souls Production untuk perilisan album kedua sekaligus merombak formasi –Ilyun yang tadinya merupakan vokalis bergeser menjadi gitaris, sementara posisi vokal diisi Fajar (Imperforata).






GORGING (Brutal Death Metal)

“A simple way in sheer brutality”. Itulah deskripsi singkat Gorging di laman Facebook mereka. Pada awalnya, band ini menamakan diri sebagai Buto Ijo dan sempat mengeluarkan tiga lagu pada 2010 yang sangat-sangat Disgorge; “Head Crushed by Truck’, ‘Mati Konyol’, dan ‘Reconstruction of Murder’. Dua tahun kemudian, karena satu dan lain hal, mereka mengganti nama Buto Ijo menjadi Gorging sekaligus melepaskan ‘Promo 2012’ yang berisi dua lagu. ‘Promo 2012’ hanya versi re-recorded dari dua lagu sebelumnya dan kini menggunakan drum asli orang, bukan programming. Usut punya usut, label Thailand yang namanya hampir mirip seperti lawannya Popeye tertarik untuk merilis full-length perdana mereka, tapi hingga kini masing-masing personel Gorging masih sibuk dengan urusan masing-masing. Si vokalis sibuk dengan band yang satunya, si gitaris sibuk naik gunung dan jadi visual merchandiser, padahal si drumer tergolong serius nge-band. *Lho, kok jadi bongkar rahasia band orang haha* Padahal, kalau mau diseriusin, Gorging punya potensi jadi besar dan enggak underrated seperti sekarang. Nih, buktinya silakan dengar/liat bakat mereka di bawah ini. These young guns are totally underrated, so help them to the top!






DISGUSTING CASTIGATION (Brutal Death Metal)

Disgusting Castigation membenarkan klaim bahwa brutal death metal itu subgenre yang simpel. Cukup dengan gebukan drum dan satu gitar, musik keras dan cepat sudah bisa dihasilkan. Two man brutality ini dibentuk pada pertengahan 2015 dan dihuni Nanda (gitar, vokal) serta Arga (drum). Di tahun yang sama, Disgusting Castigation menelurkan ‘Promo 2015’ melalui Necrology Records. ‘Promo 2015’ diterima dengan baik oleh brutallers, itu terbukti dengan banyaknya “acara” yang menjadikan mereka sebagai headliner di daerah-daerah Jawa Barat, Tengah hingga Timur.

Comments