Wawancara dengan Celebes Pride, Sabaoth

Ki-ka: Marcel, Rio, Ivan, dan Boy.
METAL MARCH - Hailing dari Manado, Sulawesi Utara, Sabaoth memberikan udara segar dari banyaknya band brutal yang muncul. "Unholy Divinity" yang dirilis via Dismembered Records menjadi bukti shahih ketajaman kuartet ini. Kami, Metal March, memiliki kesempatan berharga dengan mewawancarai salah satu Celebes Pride ini.

MM: Terima kasih telah menerima tawaran wawancara dari Metal March. Apa kabar, Sabaoth?

Rio: Terima kasih juga buat Metal March yang mau mewawancara kami. Kabar kami baik-baik saja, semoga Metal March juga demikian kabarnya, hehehe...

MM: Buat mereka yang belum tahu,bisa diceritakan sejarah singkat dari Sabaoth? Seperti line up, kesehariannya apa saja selain bermusik, dll.

Rio: Sabaoth terbentuk pada 2005 dan sudah mengalami beberapa kali pergantian personel. Line-up saat ini; Rio/Guitar, Marcel/Drum, Boy/Vocal, Ivan/Bass. Di 2007 kami merilis empat lagu dalam album bertitel “Demogrind”. Mengalami vakum dua tahun dan kemudian aktif lagi pada 2009 sampai akhirnya awal 2010 kami merilis empat lagu dalam album bertitel “Exile”. Pada 2013 kami merilis promo bertitel “Shadow of Sin” dan akhirnya di 2015 bisa merilis “Unholy Divinity”. Biografi selengkapnya bisa dilihat di page facebook kami www.facebook.com/sabaothmddm. Di luar band kami punya pekerjaan masing-masing, kecuali Ivan (bass) yang masih kuliah.

MM: Oke, bicara full-length perdana yakni “Unholy Divinity” kalau kami sudah tahu album tersebut bicara soal apa. Nah, bagi yang tidak tahu atau belum memiliki “Unholy Divinity”, bisa diceritakan album itu bercerita soal apa?

Rio, Boy: “Unholy Divinity” bercerita soal kegelapan, depresi, kekerasan atas nama tuhan, bahkan pemusnahan berkedok agama.

Cover "Unholy Divinity"
MM: Kenapa memilih tema tersebut untuk “Unholy Divinity” apakah karena tema gore sudah terlalu pasaran? Lalu, apakah tema ini akan dilanjutkan ke album berikutnya?

Boy: Tidak ada alasan khusus, sih, kebetulan saya pribadi lebih nyaman menulis lirik tentang hal-hal seperti ini. Dan pastinya tema lirik seperti ini akan saya pertahankan.

MM: Kami jadi penasaran apa yang ingin disampakan oleh Sabaoth melalui “Unholy Divinity”?

Boy: Secara band kami ingin membawa nama Manado agar lebih dikenal di luar Sulawesi. Secara album tidak ada hal yang khusus yang ingin kami sampaikan, album kami dapat diterima teman-teman sudah merupakan kebanggan buat kami.

MM: Kami juga tertarik dengan warna musik Sabaoth, dan Anda sendiri mengklaim nama musik Sabaoth sebagai Groovy Grinding Death Metal. Bisa dijelaskan lebih jelas lagi soal ini?

Marcel: Klaim Groovy Grinding Death Metal tak muncul begitu saja ketika band ini berdiri. Pada awal terbentuk kami memainkan grindcore dgn pengaruh dari Napalm Death, Nasum, Noxa, band-band thrash metal, hardcore dan beberapa band dengan genre sejenis tadi, dari sini perlahan kami mengembangkan style dengan menaruh unsur-unsur death metal dengan pengaruh dari band Misery Index, Brujeria, Dying Fetus, Suffocation, Visceral Bleeding, dll. Jadi, dengan kata lain kami memainkan death metal dengan balutan groovy dan grinding parts.


MM: Kami jadi penasaran sebetulnya dari segi musik,”Unholy Divinity” sendiri terinspirasi dari band band apa saja?

Marcel:  Secara tak langsung ide-ide yang muncul saat menggarap Unholy Divinity terpengaruh dari band-band yang banyak kami konsumsi saat itu, seperti Dying Fetus, Suffocation, Internal Bleeding, Kaluman.

MM: Aliran brutal di Indonesia saat ini sudah semakin trendi karena banyaknya band-band yang bermunculan. Dengan Groovy Grinding Death Metal ini, kami setuju kalau Sabaoth adalah band yang benar-benar segar dan inovatif. Bagaimana sejauh ini tanggapan death metallers soal “Unholy Divinity”?

Marcel: Sampai sejauh ini tanggapan teman-teman di luar daerah sangat positif dan beragam. Dan kami berterima kasih atas review-review, masukan serta kritik dari teman-teman semua.

MM: Untuk saat ini, ada kabar apa dari basecamp Sabaoth? Apakah sudah mulai materi untuk full-length kedua? Jika sudah, apa yang menjadi pembeda dengan materi di “Unholy Divinity”?

Marcel, Rio: Materi album berikut akan menjadi kesempatan untuk mematangkan apa yang sudah kami buat di album sebelumnya, juga ide-ide baru yang akan coba kami tambahkan nanti. Tapi tanpa menghilangkan benang merah dari konsep dasar keseluruhan bermusik kami.


MM: Kira-kira apa saja pencapaian yang ingin dicapai oleh Sabaoth ke depannya?

Rio:  Hanya ingin terus berkarya saja dalam bermusik, ingin main di banyak daerah yang nantinya akan memberikan kami pengalaman dan pelajaran, juga bertemu dengan teman-teman. Sebab, selama bertahun-tahun kami hanya berhubungan lewat media sosial dan belum pernah bertemu.

MM: Bicara hal lain, tak bisa dibantah skena bawah tanah Indonesia berpusat di tanah Jawa. Tapi, bukan berarti band-band di luar Jawa tidak memiliki potensi-potensi. Menurut pengamatan Sabaoth, underground scene di Manado atau Sulawesi secara keseluruhan perkembangannya saat ini seperti apa?

Marcel:  Secara keseluruhan tiap-tiap kota besar di Sulawesi memiliki komunitas underground, tapi perkembangannya menurut kami tak sepesat dan semaju kota-kota yang ada di Jawa khususnya Bandung dan Jakarta. Salah satu perbedaan yang paling kami rasakan antara scene yg ada di Jawa dan Sulawesi secara keseluruhan, dan Manado khususnya adalah soal keterbatasan sarana pendukung dalam bermusik, contohnya studio untuk latihan maupun recording. Di Manado, studio untuk recording dan latihan masih bisa dihitung dengan jari. Equipment untuk gigs panggung dibandingkan dengan daerah-daerah di Jawa juga masih berbeda jauh dalam hal spesifikasi alat, kru SDM dan sound engineer.

MM: Selain Sabaoth, Sulawesi juga memiliki jagoan seperti  Critical Defacement. Apakah ada band yang punya materi sadis tapi kurang disorot atau dengan kata lain “underrated”?

Boy:  Ada Moseka dari Kendari, Pathogenic Bacteria dan Mesum dari Kolaka, Butahe dari Gorontalo, Pentatora dari Palu. Sayang mereka kurang terlalu dikenal.

MM: Sebagai referensi juga untuk death metallers, saat ini anda sedang getol mendengarkan album apa saja?

Marcel: Banyak!!! [Hahaha] Cuma ada beberapa band yg akhir-akhir ini sering kami konsumsi, seperti: Dying Fetus, Suffocation, Kaluman, Cadavoracity, Perverted Dexterity, Deeds of Flesh, Decrepit Birth, Disgorge.

MM: Itu saja dari kami, dan sukses terus buat Sabaoth. Jika ada pesan yang ingin disampaikan buat death metallers sejagad, waktu dan tempat kami persilakan.

Rio: Jangan berhenti berkarya selagi masih mampu, bagi pelaku seni berkarya adalah harga mati, jangan mudah menyerah. Berikan support dalam bentuk apa pun yang kalian bisa untuk band-band Death Metal yang kalian suka musiknya. Kalau tidak suka, saling menghargai saja itu sudah cukup. Thanks again for Metal March sukses juga buat kalian. Salam \m/\m/.

Sabaoth 


*All photos belongs to Sabaoth. Cheers!

Comments