"Rebirth of Jatisunda", Pionir Genre Indonesia Death Metal?

Cover "Rebirth of Jatisunda", kurang tahu juga ada filosofi apa di balik artwork itu.
METAL MARCH - Agak telat juga sih nulis beginian. Pengen nulis soal "Rebirth of Jatisunda", tapi album itu kan udah rilis dua tahun lalu (2013). Tapi, ya sudahlah, tulis dari POV yang lain. Oke, sejauh yang gw tahu, cuma Jasad album "Rebirth of Jatisunda" yang temanya bau Indonesia, seenggaknya yang brutal. Harusnya band-band lain patut nyoba, sebab Indonesia kan kaya budaya. Ambil contoh di Eropa kaya munculnya genre Viking Metal yang bercerita soal Viking, Mitologi Norse, yang jadi jagoannya Amon Amarth, meskipun bukan pionir. Dari tahun ke tahun, Amon Amarth konsisten ngegunain tema itu dalam albumnya. Sebenarnya apa sih Mitologi Norse?

Kapal Viking yang selalu dibawa Amon Amarth saat tampil live (Foto: metalassault.com/Brad Worsham)
Gampangnya, pasti pernah nonton film Thor trilogy, kan? Karena judulnya Thor, maka yang jadi protagonis Thor, anaknya Odin (bapaknya para Dewa, kalo di Mitologi Yunani dia Zeus-nya). Sementara yang jadi antagonis Loki, anak angkat Odin. Nah, Amon Amarth juga kalau buat album enggak jauh-jauh dari Thor, Odin, dan Loki, karena mereka bertiga itulah yang jadi center of interest Mitologi Norse. Memang sih pengertian dari Viking Metal enggak sesempit karena liriknya bertema Asgard, Viking, Mitologi Norse, atau lainnya. Tapi, jelas, balik lagi kalau Viking Metal itu berawal dari soal lirik. Album Bathory yang berjudul "Blood Fire Death" disebut-sebut jadi pionir genre ini. Band lainnya yang setia nyeritain mitologi adalah Kronos, FYI itu adalah nama dari bapaknya Zeus (God of the Gods dalam Mitologi Yunani). Enggak cuma dari nama band, mereka juga konsisten nyeritain Mitologi Yunani. Ada lagi Nile, tau sendiri mereka megang Mesir. Sebenarnya banyak lagi band yang setia nyeritain soal mitos, legenda, budaya lokal mereka, terutama yang dari Eropa. Kalau dari Amerika Serikat dan Australia? Enggak usah ditanya deh mereka kan pendatang, jangan harap mereka nyeritain soal budaya. Kalau ada band dari sana yang cerita soal Native American atau Aborigin gw angkat lima jempol (termasuk standar tengah).

"Blood Fire Death" diambil dari lukisan Peter Nicolai Arbo yang berjudul "Asgardsreisen", versi Norse dari Wild Hunt.
Balik lagi ke Indonesia, Merah Putih punya 1340 suku bangsa, 546 bahasa, dari 17504 pulau. Sayangnya masih sedikit band-band yang nulis soal budayanya sendiri. Bukannya sok paling bener atau gimana, gw juga punya band dan gw mengakui enggak mampu nulis soal budaya sendiri. Enggak bisa dibantah, pengetahuan soal budaya sendiri minim karena, balik lagi soal edukasi. Pas SD, mungkin pernah ngejumpain pelajaran Mulok (Muatan Lokal), tapi itu enggak seberapa alias minim banget. Naik lagi pas kuliah, ada gitu mata kuliah soal budaya? Ada. Iya ada kalau jurusannya Sastra Jawa, Sunda, Bugis, Minangkabau, dll. Memang, enggak bisa semata-mata menyalahkan pendidikan formal, kan bisa belajar sendiri. Tapi, dari situ kelihatan kurangnya peran pemerintah. Lagi-lagi enggak bisa dibantah, kita sudah diracuni dan lebih suka dengan budaya luar, yang sebenernya mereka juga enggak berbudaya-berbudaya amat.

Agak susah memang bangga dengan budaya sendiri. Sebaliknya, enggak jarang pula ditemuin bule-bule yang betah di Indonesia karena sudah jatuh cinta sama budayanya. Contoh, mereka ke Bali enggak cuma ngincer alam. Kalau soal alam, di Bumi Pasundan kaya Bandung atau Puncak, juga indah banget. Bule ke Bali, Yogyakarta, atau Toraja, ya pengen ngerasain keseharian budaya lokal yang masih lengket. Mereka kangen sama yang namanya budaya, sebab di daerah asal mereka minim budaya, (kasarnya lagi) enggak ada budaya.


Bisalah misal, band-band dari Jawa Tengah, Timur, cerita soal Majapahit, Nyi Roro Kidul, Nyi Blorong, Patih Gajah Mada, Roro Jonggrang, Damar Wulan, dll. Iya, mungkin udah ada. Mungkin yang alirannya Black Metal. Loncat ke Jawa Barat, bisalah cerita soal Kerajaan Pajajaran atau filosofi budaya Sunda. Kalau ini boleh berbangga soalnya sudah ada Jasad yang maju duluan via "Rebirth of Jatisunda". Memang sudah banyak yang mengklaim sebagai Sundanese Death Metal dan sebagainya, tapi kebanyakan itu bukan cerita budaya, melainkan sebatas penggunaan bahasa. Itu juga enggak keliru, kok. Loncat lagi ke Sumatera, ada Sriwijaya, Malin Kundang, dll. Andai lebih banyak lagi band yang cerita soal budaya Indonesia dan bisa konsisten, siapa tahu kemudian muncul subgenre baru yang dipatenkan dan diakui dunia macam; Sundanese Death Metal, Javanese Black Metal, Indonesia Death Metal, Majapahit Metal, Nyi Blorong Black Metal, or whatever it is. Jadi sama kaya kasus Viking Metal yang kemunculannya gara-gara lirik. Semoga dengan "Rebirth of Jatisunda", karya ini menginspirasi atau lebih tepatnya membuat "melek".

Berikut lirik "Siliwangi", salah satu lagu dalam "Rebirth of Jatisunda".
Siliwangi speaks goodness
inherited to me
from my ancestors

siliwangi speak goodness
it has been practiced
by my ancestors
by the people of yore

pakena gawe rahayu
pakena kereta bener
mahayu dora sapuluhuh
mikukuh dasa prebakti
pancaaksara guruning janma

mikukuh darma mitutur
ngawakan tapa di nagara
tritangtu di nu reya

a path to happiness and prosperity
a path to peace and tranquality
do good to the mother earth
do good to each other

siliwangi
is the true teaching
loves our brothers and our sisters

principles of virtue
using ten parts of the body
for goodness and the truth
the ten parts are ears eyes
skin tongue nose mouth
hands feet anus and genitals

always devoted to each others
sons and daughters devoted to parents
wife dutiful to husband
students listen to teacher
people devoted to the fair king

the king devoted to
the people and the god
aims to the welfare of
peoples lives and the world

be the king for yourself
know yourself
as a microcosm of the universe

hails to the kings
mundinglaya
mundingwangi
mundingsari mundingkawati
suramanggala
suryakencana
wastu dea
jayaningrat natamanggala
jayanagara hastamanggala
jayaperkosa yudamanggala  



Comments